Friday, 1 January 2016

Seberapa jauh kamu mengenal Tuhan Mu ? | Motivasi dan Inspirasi

Hening. Mata ini masih terjaga, padahal detik demi detik jarum jam terus bergulir, hingga tak terasa hampir larut malam. Ku bertanya pada hati, mungkin ada yang salah dalam diri ini entah ada amalan yaumiah yang belum aku kerjakan ataukah… Masih ku terdiam.

Ternyata… Tilawah belum aku bereskan, sedekah belum aku tunaikan, membaca buku pun belum aku tamatkan… Astaghfirullah, pantas saja hati ini tak tenang dan ada yang kurang, Ruhiyah kita belum terisi, sewajarnya ia meminta Hak nya !!!

Memang Semangat Hidup akan terasa jika antara Ruhiyah dan Jasmaniyah kita terpenuhi hak nya, Masyaallah… Hingga aku tertegun dan disadarkan oleh-Nya, segera aku ambil Mushaf untuk Tilawah. Lumayan, masih ada setengah jam menuju tengah malam… Ku habiskan satu juz dalam hening nya malam, Subhanallah, Indah, Nikmat, Damai dan Tentram. Mulai lah hati ini tersirami oleh Rahmat-Nya, tak ayal napas pun mulai bisa ku kendalikan, detak jantung ini terasa stabil dan kembali… Allah sedang ingin berbicara dengan aku, yaa… Saat diri ini terlenakan oleh dunia, otomatis hawa nafsu dan egoisme diri pun memuncak, hati tak tenang, makan tak enak, tidur pun tak nyenyak, menjalankan agenda pun tak Ikhlas, Astaghfirullah… Bersyukur saat ini aku masih disadarkan oleh-Nya. Usai tilawah, mata ini ternyata masih sulit untuk dipejamkan… Khusnudzhan saja, pasti Allah masih merindukan ku, memberi kesempatan padaku untuk menyadari semua yang telah engkau lakukan hari ini. Aku terdiam, orang-orang sukses bilang, sempatkan lah waktu mu untuk ber-Muhasabah sebelum kau tertidur… Mungkin inilah tindakan selanjutnya yang harus aku lakukan. Aku mulai menarik nafas… Mengosongkan pikiran, melembutkan hati, menstabilkan tarikan napas, mata ku terpejam…


…………….. Gelaaaaaaap !!! Gelaaaaaap !!! Gelaaaaaap !!!,

Ya Rabb, sungguh besar nikmat dan rahmat Mu, kau curahkan semua itu kepada hamba,

Anugerah Mu tak terbatas, Mata ini, yang dengan nya hamba bisa melihat Ciptaan Mu yang luar biasa Indah, tapi lebih banyak hamba melakukan maksiat, melihat yang bukan hak nya… Telinga ini, yang dengan nya hamba bisa mendengar segala suara merdu dari para hafidz Al-Qur’an, tapi lebih banyak hamba gunakan untuk mendengarkan yang tak sepantas nya didengar… Mulut ini, yang harus nya digunakan untuk melantunkan kalimat-kalimat Mu, malah lebih sering digunakan untuk membicarakan orang lain…

Aku masih tertegun, mentadabburi diri… Sampai pikiran ku terbayang dengan 2 orang hebat, yaa merekalah yang menantarkan aku hingga sekarang, yang dengan rintihan doa nya selau tak pernah bosan mendoakan, yang kasih sayang nya tak kan pernah bisa terbalas, pengorbanan nya tak diragukan, perjuangan nya begitu mengesankan, tabah nya hati mereka tak tertandingi, sabar dan ikhlas nya hati mereka yang suci….Ya mereka lah kedua orang tua ku, takkan ada yang bisa menyamai mereka, bangga aku menjadi bagian dari mereka, dan satu pertanyaan muncul… “Sudahkah kau bahagiakan mereka ?” | Dengan kuliah mu saat ini yang masih acak-acakan, agenda mu yang masih ga karuan, masih kau pergunakan waktu untuk bersantai ria, lantas uang jajan mereka kirimkan tiap bulan nya, | Seberapa sering kau menghubungi kedua nya ? Menanyakan kabar mereka, keadaan mereka, seberapa sering ? Ataukah kau lupa akan perjuangan mereka disana, yang dengan “Khusnudzhan nya” mereka yakin bahwa saat ini kamu jauh dari mereka itu sedang belajar, sedang kuliah, sedang mencari ilmu, sedang menata kesuksesan, tapi… Apakah kenyataan nya ? Kau masih belum bisa menjaga dan  melaksanakan amanah mu untuk Kuliah disini !!!

Tak sadar air mata ku mulai menetes… Ku pandangi foto keduanya, yang mungkin sekarang wajah mereka mulai berubah, karena dimakan usia. “Maafkan aku Maaah, Paaaah… Belum bisa menyenangkan hati, masih belum mandiri, masih merepotkan, sering membuat cemas, belum bisa memberikan yang terbaik…”. Mulai ku kenang saat-saat kebersamaan dengan mereka…

“Aku ingat ketika sebelum aku pergi untuk kuliah dan hidup di Kota orang, dengan lirih kalian berpesan… “Jagalah diri aa’ baik-baik disana, tak bisa lagi aa’ sembarangan dalam bertindak, semua nya harus dilakukan sendiri, mamah tak bisa lagi menyiapkan sarapan untuk aa’, membangunkan aa’ untuk shalat subuh, membangunkan aa’ untuk sahur puasa senin-kamis, meyiapkan cemilan saat aa’ belajar, mencuci pakaian aa’ dan…. Mengalir deras air mata nya,…”. Begitu pun mamah disini, tak ada lagi yang membantu membersihkan rumah, mengepel lantai, menyapu pekarangan, menguras bak dan kolam ikan, *sungguh, inilah saat yang membuat ku takut berpisah dengan mereka… Lalu ku tengok ayah, dengan tegar mulai berbicara, “Hati-hati dengan lingkungan mu disana, jangan lah terbawa arus, pandai-pandailah mawas diri, karena semata adanya kamu disana adalah untuk kebaikan mu juga, Ayah dan Ibu disini membiayai kamu, yaa untuk kebaikan mu juga kedepan… Jangan pikirkan masalah biaya, biar ayah yang urus, fokus saja dengan kuliah mu nanti disana…”. Memoar ini yang menjadi momentum aku untuk serius belajar dan menuntut ilmu nanti disana, menata kesuksesan dan bisa bermanfaat untuk orang lain…

Kemudian, flashback tadi menjadi energi positif bagi diri ini… Yaaah, aku mulai menyadari ternyata telah banyak perubahan yang terjadi padaku, baik itu secara fisik, tingkah laku, sikap dan perbuatan. Aku berdiri, menatap cermin…

Disana ada seseorang, yang mungkin selama ini kau lupakan…

Kau tak peduli dengan nya, padahal…

Dia selalu membersamai perjuangan mu, selalu setia menemani setiap agenda mu,

Dia selalu ada tanpa kau dasari, tapi kau melupakan keberadaannya,

Dia selalu sabar menanti mu, untuk diajak berdiskusi tentang semua pengalaman yang kau alami,

Dia selalu tabah dalam menyikapi semua sikap mu, selalu dan selalu…

Yaaa, dia itu adalah DIRI MU SENDIRI !!!

Seberapa Kenal kamu dengan nya ? Seberapa dekat kamu dengan nya ? Seberapa akrab kamu dengan nya ? Seberapa yakin kau akan potensi nya ? Seberapa jauh kau menjalin persahabatan dengan nya ?

Cobalah tatap mata itu, mata yang setia membersamai mu dalam setiap agenda,

Cobalah kau tatap wajah itu, seberapa banyak terjadi perubahan pada nya ?

Cobalah kau tengok hati mu… Mungkin dia sedang terpuruk, terasingkan, terabaikan…

Berdamailah dengan diri mu sendiri… Kenalilah diri mu sendiri, maka kau pun akan yakin bersama DIA kau akan menggapai kesuksesan kelak… ^_^

Lantunan Istighfar terus menghiasi setiap kata yang terucap, ternyata memang perlu yang namanya Muhasabah Diri… Karena disana kau bisa menemukan titik dimana kau merasakan yang namanya “Sakit, sendiri, serba salah… Hingga Allah lah tempat kita bersandar selanjut nya, tak ada lagi tempat kecuali memohon kepadaNya…”

Pancaran semangat itu kembali, aku menyaksikan cahayaNya muali kembali masuk membersamai setiap desahan napas ini…

Indah dan Nikmat ketika diri ini dekat dengan sang Pemilik Hati, karena memang yang namanya hati itu sifat nya bolak-balik dan tidak stabil, maka Muhasabah inilah menjadi wasilah menstabilkan hati,



















Mari bersama, sempatkanlah waktu mu untuk Bermuhasabah, mengenali diri mu sendiri, mengenali semua orang-orang disekitarmu, mengenali potensi terbaik mu dan mengenali Tuhan mu. Masyaallah, semoga hati ini selalu terpaut dalam agama Mu yaa Rabb, mengantarkan hamba untuk terus selalu bersyukur terhadap apa yang hamba dapatkan, menjadi hamba yang pandai bersyukur dan selalu merasa diawasi oleh Mu… Aamiin,

No comments:

Post a Comment